DENPASAR, INFODEWATA.COM – Tingkat inflasi di Provinsi Bali pada Maret 2026 tercatat masih dalam kondisi terkendali meskipun terjadi peningkatan permintaan menjelang hari raya. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi bulanan berada di kisaran 0,56 hingga 0,59 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, Rabu (1/4/2026), menjelaskan bahwa angka inflasi tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan Maret 2025 yang mencapai sekitar 1,61 persen serta Maret 2024 sebesar 0,93 persen. Padahal, secara umum periode menjelang hari raya identik dengan lonjakan harga akibat meningkatnya permintaan masyarakat.
“Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, inflasi saat ini tergolong lebih rendah. Padahal biasanya momentum hari raya mendorong inflasi lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi normal tanpa momentum hari raya, inflasi di atas 0,5 persen sudah tergolong tinggi. Namun dalam situasi saat ini, angka tersebut masih dianggap wajar dan terkendali.
BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi pada Maret 2026. Emas perhiasan menjadi faktor dominan dengan tingkat inflasi sekitar 9,56 persen dan memberikan andil sebesar 0,26 persen terhadap inflasi secara keseluruhan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga emas global.
Selain itu, biaya sewa rumah turut mengalami kenaikan dengan inflasi sekitar 4,41 persen dan andil sekitar 0,1 persen. Komoditas beras juga masih menjadi penyumbang inflasi dengan kenaikan sekitar 2,09 persen, disusul biaya pendidikan tingkat sekolah menengah atas yang mengalami inflasi sekitar 8,67 persen.
Inflasi tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi merata di seluruh daerah penghitungan inflasi di Bali, meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Tabanan, dan Singaraja. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga terjadi secara luas di wilayah utama provinsi tersebut.
Secara umum, inflasi di Bali dipengaruhi oleh kelompok perumahan, makanan dan minuman, pendidikan, serta komoditas emas yang sensitif terhadap perubahan harga global dan permintaan domestik.
Meski terjadi momentum hari raya, inflasi yang relatif rendah juga mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi masyarakat tidak terlalu tinggi. Faktor ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, pola belanja masyarakat, serta fluktuasi kunjungan wisatawan di awal tahun.
Dengan kondisi tersebut, stabilitas harga di Bali dinilai masih terjaga. Namun, inflasi yang terlalu rendah di tengah meningkatnya permintaan juga dapat menjadi sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya pulih.

