BADUNG, INFODEWATA.COM – Bangunan penahan gelombang atau seawall di kawasan tanjung tebing Pura Luhur Uluwatu dilaporkan mengalami kerusakan setelah dihantam gelombang tinggi dari laut selatan. Kerusakan tersebut terjadi di bagian barat tebing yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia.
Informasi mengenai kondisi tersebut mencuat setelah beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan ombak besar menghantam area proyek di bagian bawah tebing pura. Dalam rekaman tersebut tampak gelombang kuat menggerus fondasi di ujung selatan struktur penahan gelombang.
Meski demikian, keberadaan seawall yang telah dibangun dinilai mampu meredam sebagian besar kekuatan ombak sehingga hantaman gelombang tidak langsung mengenai tebing pura.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, membenarkan adanya kerusakan pada bagian bangunan tersebut. Ia menjelaskan kerusakan diduga terjadi setelah kawasan itu diterjang badai yang disertai gelombang tinggi beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kondisi alam di kawasan tersebut memang cukup ekstrem karena berada di wilayah laut terbuka yang langsung menghadap Samudera Hindia.
“Dengan kondisi seperti ini agar bisa dievaluasi atau diperbaiki lebih tinggi atau lebih kokoh. Ini pembelajaran nyata bagi kita semua, terutama untuk bagian yang berada di bawah pura,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Sumerta berharap pemerintah daerah sebagai pemrakarsa proyek dapat melakukan evaluasi terhadap konstruksi yang telah dibangun. Evaluasi dinilai penting agar desain dan kekuatan bangunan dapat disesuaikan dengan karakter ombak di lokasi tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi merupakan bagian dari proses evaluasi terhadap bangunan yang berdiri di kawasan dengan dinamika gelombang laut yang kuat.
Meski demikian, pihak desa adat berharap proyek penanganan tebing tetap dilanjutkan. Menurutnya, keberadaan seawall sangat penting untuk melindungi struktur tebing di bawah Pura Luhur Uluwatu dari hantaman gelombang secara langsung.
Ia khawatir jika proyek tersebut dihentikan, perlindungan terhadap tebing tidak akan maksimal. Selain itu, penghentian proyek juga dapat menimbulkan persepsi bahwa perencanaan sebelumnya belum matang.
“Keberadaan seawall nantinya mampu memecah gelombang sehingga energi ombak tidak langsung menghantam pangkal tebing. Dengan begitu struktur tebing di kawasan pura dapat lebih terlindungi dari potensi retakan maupun longsoran,” jelasnya.
Pihak Desa Adat Pecatu juga akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk dinas teknis pemerintah daerah, guna memastikan kelanjutan program pengamanan tebing tersebut.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, AA Rama Putra, mengakui kuatnya hantaman ombak di sekitar dasar tebing Pura Luhur Uluwatu.
Ia menjelaskan bahwa titik yang mengalami kerusakan merupakan bagian ujung dari proyek sebelumnya yang memang belum sepenuhnya rampung.
“Itu adalah struktur di bagian akhir dan memang belum kita finishing, sehingga terlihat terurai seperti itu,” ujarnya.
Rama Putra menyebut meskipun belum selesai, struktur yang telah dipasang mampu mengurangi kekuatan gelombang sebelum mencapai tebing.
Pemerintah daerah berencana melanjutkan proses penyelesaian proyek pada tahun 2026, termasuk pemasangan lapisan batu armor dan limestone sebagai bagian dari tahap finishing.
Selain itu, konstruksi lanjutan untuk memperkuat pengamanan tebing juga akan dilakukan melalui proyek pembangunan pengaman pantai Pura Luhur Uluwatu yang saat ini telah memasuki tahap lelang.
Ia pun meminta masyarakat untuk bersabar menunggu kelanjutan pengerjaan tersebut.
“Secara fungsi bangunan revetment ini sangat penting untuk meredam kekuatan gelombang laut lepas. Jika tidak ada bangunan ini, tebing Pura Uluwatu akan langsung menahan hantaman ombak dari laut lepas,” pungkasnya.

