TABANAN, INFODEWATA.COM – Upaya pencarian korban hanyut akibat banjir bandang di aliran Sungai Empelan Subak Jemanik, Banjar Kuwum Ancak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, akhirnya membuahkan hasil. Jenazah Yuliana DA Costa Makun ditemukan pada Kamis siang sekitar pukul 14.00 WITA, menandai berakhirnya operasi pencarian oleh tim SAR gabungan.
Jenazah Yuliana ditemukan di aliran Sungai Yeh Ege, tepatnya di Banjar Koripan Kaja, Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri. Lokasi penemuan berjarak sekitar 6,9 kilometer dari titik awal korban dilaporkan terseret arus di Sungai Empelan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, I Nyoman Sidakarya, menyampaikan bahwa identitas jenazah dapat dipastikan berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan di lapangan.
“Korban ditemukan sekitar pukul 14.00 WITA. Berdasarkan ciri-ciri yang ada, dapat dipastikan jasad tersebut merupakan Yuliana DA Costa Makun,” ujarnya.
Setelah proses evakuasi oleh tim SAR gabungan, jenazah korban langsung dibawa ke RS Nyitdah Kediri untuk penanganan lebih lanjut. Penemuan ini melengkapi korban sebelumnya, Audrey Natania Banafanu (1,5), yang lebih dahulu ditemukan meninggal dunia di kawasan Pantai Batubelig, Canggu, Badung.
Dengan telah ditemukannya kedua korban pada hari kedua pencarian, operasi SAR secara resmi dinyatakan selesai dan dihentikan. Seluruh unsur tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, dan potensi SAR lainnya kemudian kembali ke satuan masing-masing.
Di tengah proses pencarian, pihak keluarga korban diketahui sempat menggelar doa di lokasi jatuhnya korban di Sungai Empelan. Doa dilakukan sebagai bentuk ikhtiar batin agar korban segera ditemukan. Ritual doa dilaksanakan secara adat setempat serta doa menurut kepercayaan Nasrani yang dianut keluarga korban, termasuk doa khusus yang dilakukan pada tengah malam pascakejadian.
Mirna, ipar dari korban Yuliana, mengungkapkan bahwa keluarga sempat mengalami peristiwa yang diyakini sebagai petunjuk spiritual di malam hari setelah kejadian.
“Saat itu disampaikan bahwa Yuliana baru bisa ditemukan setelah anaknya ditemukan lebih dahulu,” ujarnya. Keluarga meyakini petunjuk tersebut mulai terjawab setelah jasad Audrey ditemukan lebih awal.
Di mata keluarga, Yuliana dikenal sebagai sosok yang ramah, mudah bergaul, dan memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga serta kerabat. Keluarga juga mengaku sempat memiliki firasat sebelum kejadian, terutama terkait lokasi tempat tinggal yang berdekatan dengan aliran sungai.
Sementara itu, anak pertama korban yang selamat, Natalia Banafanu (6), dilaporkan masih mengalami trauma mendalam. Meski kondisi fisiknya berangsur membaik, secara psikologis korban masih terguncang. “Tatapannya masih kosong. Setiap malam menangis mencari mamanya,” tutur Mirna.
Dari pihak aparat, Komandan Kodim Tabanan Trijuang Danarjati menjelaskan bahwa jasad korban ditemukan dalam kondisi kulit yang banyak mengelupas akibat berada cukup lama di aliran sungai dengan arus deras. Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi di wilayah Bali. (*)

