Peristiwa

Banjir Terjang Busungbiu, Jalan Penghubung Dua Desa Amblas 60 Meter dan Akses Warga Terganggu

Warga bersama aparat TNI-Polri memantau kondisi jalan penghubung antar desa di Kecamatan Busungbiu, Buleleng, yang tergerus banjir hingga amblas dan memutus akses warga, Kamis (15/1/2026). (Foto: Istimewa)
Warga bersama aparat TNI-Polri memantau kondisi jalan penghubung antar desa di Kecamatan Busungbiu, Buleleng, yang tergerus banjir hingga amblas dan memutus akses warga, Kamis (15/1/2026). (Foto: Istimewa)

BULELENG, INFODEWATA.COM – Jalan penghubung Banjar Dinas Bale Dana, Desa Titab menuju Banjar Dinas Pucaksari di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, tergerus banjir pada Kamis (15/1/2026) malam. Akibat peristiwa tersebut, badan jalan sepanjang sekitar 60 meter amblas hingga kedalaman tiga meter dan hanya menyisakan jalur sempit yang dapat dilalui pejalan kaki.

Kerusakan jalan ini berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, mengingat ruas tersebut merupakan satu-satunya akses penghubung dua desa sekaligus jalur menuju SDN 4 Pucaksari. Kendaraan roda empat tidak dapat melintas, sementara sepeda motor juga tidak disarankan melintasi lokasi karena kondisi jalan yang dinilai berbahaya.

Salip Motor Terlalu Dekat, Pengendara Vario Luka dan Sempat Pingsan di Jalur Denpasar–Gilimanuk

Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menegaskan pemerintah daerah telah menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng untuk segera melakukan penanganan darurat. “Besok Dinas PUTR mulai bekerja agar akses jalan yang putus bisa kembali dimanfaatkan masyarakat,” ujar Sutjidra saat meninjau lokasi kerusakan, Jumat (16/1/2026).

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan bersifat penanganan jangka pendek agar jalan tersebut minimal dapat dilalui sepeda motor. Sementara itu, perbaikan lanjutan agar dapat dilalui kendaraan roda empat memerlukan waktu lebih lama mengingat tingkat kerusakan yang cukup parah dan panjang.

Menghadapi potensi bencana serupa di sisa musim penghujan, Sutjidra menyebutkan pemerintah telah menyiapkan langkah pencegahan jangka menengah. Salah satu penyebab utama kerusakan disebut berasal dari aliran air yang menyimpang. “Nanti akan ditangani dari atas dan jalurnya diperlebar. Kami juga sudah berkomunikasi dengan pemilik lahan untuk mengalihkan aliran air sebagai langkah antisipasi,” jelasnya.

Sementara itu, Plt Camat Busungbiu, Nyoman Agus Tri Kartika Yuda, menyatakan kerusakan jalan penghubung Titab–Pucaksari merupakan dampak bencana paling parah di wilayahnya. “Sejak kemarin aktivitas warga terganggu. Kendaraan roda empat tidak bisa keluar karena hanya menyisakan jalan setapak,” katanya.

Meski demikian, Agus Tri memastikan warga Desa Pucaksari tidak sampai terisolir. Akses masih memungkinkan dilalui dengan berjalan kaki, namun pihak kecamatan tidak merekomendasikan penggunaan sepeda motor karena kondisi jalan yang rawan. “Sebenarnya sepeda motor bisa melintas, tapi kami tidak menyarankan karena jebolnya sudah parah,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, dampak bencana di Kecamatan Busungbiu tercatat terjadi di 14 titik, dengan jenis kejadian didominasi tanah longsor. Di Desa Sepang Kelod dan Desa Dadap Putih, longsor sempat menutup ruas jalan, namun material sudah dibersihkan. “Untuk di Dadap Putih, kemarin belum bisa ditangani karena hujan dan keterbatasan alat berat. Pagi ini sudah dibersihkan dengan bantuan alat berat relawan dan kini sudah bisa dilalui,” jelasnya.

Selain infrastruktur jalan, bencana juga menyebabkan kerusakan rumah warga di Desa Pucaksari dan Desa Dadap Putih yang telah ditangani secara gotong royong. Di Desa Subuk, pohon tumbang dan tiang listrik roboh juga telah ditangani oleh PLN, BPBD, pihak kecamatan, serta masyarakat setempat.

Tak hanya itu, banjir juga berdampak pada fasilitas keagamaan. Pura Yeh Sakti di Desa Pucaksari mengalami kerusakan akibat terjangan air bah. Bendesa Adat Pucaksari, Made Widana, mengungkapkan tembok penyengker pura sepanjang sekitar 10 meter jebol, sementara Bale Pawedan ikut tergerus derasnya aliran air. “Air berasal dari tukad mati di seberang pura. Saat hujan deras, debit air meluap dan menghantam tembok pura hingga roboh,” terangnya.

Jalan Penghubung Luwus – Petang Putus Total Diterjang Luapan Air Pangkung Mati, Akses Warga Lumpuh

Usai kejadian, krama adat langsung melakukan gotong royong membersihkan area pura. Lumpur yang terbawa arus dilaporkan mencapai setinggi lutut orang dewasa. “Kami berharap pemerintah daerah segera memberikan bantuan, khususnya untuk renovasi dan pemulihan bangunan pura agar aktivitas keagamaan bisa kembali berjalan normal,” tandas Widana. (*)

Bagikan