Ekonomi

BRIN Kaji Kontribusi Pariwisata terhadap Timbulan Sampah di Bali, Fokus Plastik dan Sisa Makanan

Suasana Focus Group Discussion (FGD) BRIN bersama pemangku kepentingan membahas kontribusi sektor pariwisata terhadap timbulan sampah di Bali, di Denpasar, Kamis (5/2/2026). (Foto: Istimewa)
Suasana Focus Group Discussion (FGD) BRIN bersama pemangku kepentingan membahas kontribusi sektor pariwisata terhadap timbulan sampah di Bali, di Denpasar, Kamis (5/2/2026). (Foto: Istimewa)

DENPASAR, INFODEWATA.COM – Besarnya aktivitas pariwisata di Bali dinilai belum diimbangi dengan kejelasan data mengenai kontribusinya terhadap timbulan sampah. Kondisi tersebut mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kajian mendalam terhadap sistem pengelolaan sampah di Pulau Dewata, dengan fokus pada sampah plastik dan sisa makanan yang berasal dari sektor akomodasi pariwisata.

Kajian tersebut dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Kamis (5/2/2026). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung secara objektif kontribusi sektor pariwisata terhadap timbulan sampah sekaligus memetakan pola pengelolaan sampah yang selama ini berjalan di lapangan.

Teknisi Internet Tersengat Listrik Saat Pasang Kabel di Denpasar, Alami Luka Bakar Serius

Profesor Riset BRIN, Muhammad Reza Cordova, mengatakan bahwa selama ini sektor pariwisata kerap disebut sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar, namun klaim tersebut perlu dibuktikan melalui riset berbasis data. “Kita ingin melihat secara objektif, apakah pariwisata memang menjadi salah satu penyumbang terbesar, sekaligus mencari contoh pengelolaan yang baik yang bisa diterapkan lebih luas di Indonesia,” ujarnya.

Dalam proses kajian, BRIN menemukan masih banyak pengelola hotel dan akomodasi wisata yang belum terhubung dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai. Akibatnya, sampah yang dihasilkan, baik organik maupun anorganik, belum seluruhnya tertangani secara optimal.

Reza menjelaskan, salah satu fokus utama penelitian adalah sampah makanan atau food waste yang dihasilkan dari aktivitas pariwisata. Selama ini, pengelolaan food waste umumnya diarahkan pada pengomposan, namun pendekatan tersebut dinilai belum tentu menjadi satu-satunya solusi. “Misalnya untuk sampah makanan, kita ingin lihat dulu apakah ada solusi lain selain kompos dan pendekatan yang sudah umum dilakukan,” jelasnya.

Selain itu, sampah plastik juga menjadi perhatian serius dalam kajian ini. BRIN ingin mengetahui secara rinci bagaimana sistem pengelolaan sampah plastik di kawasan pariwisata, termasuk sejauh mana keterlibatan pelaku usaha dalam mengurangi dan mengelola sampah yang mereka hasilkan. “Itu yang nanti akan kita kaji lebih lanjut. Mudah-mudahan di pertengahan tahun ini kita bisa mendapatkan hasil yang lebih spesifik dan komprehensif,” tambah Reza.

Berdasarkan data sementara, kontribusi sampah dari sektor pariwisata di Bali diperkirakan mencapai sekitar 13 persen. Namun angka tersebut masih perlu diuji ulang karena potensi sampah yang belum tercatat dinilai cukup besar. “Apakah benar 13 persen, atau justru lebih kecil atau lebih besar, itu yang ingin kita pastikan. Kita ingin datanya akurat supaya pengelolaannya juga bisa lebih tepat sasaran,” tegasnya.

Hasil kajian BRIN ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, baik bagi pemerintah daerah maupun pelaku industri pariwisata. Melalui pendekatan berbasis riset, persoalan sampah di Bali diharapkan dapat ditangani secara lebih terencana, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi lingkungan serta masyarakat. (*)

Bagikan