TABANAN, INFODEWATA.COM – Kunjungan wisatawan ke Daya Tarik Wisatawan (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, mengalami penurunan tajam hingga mencapai 80 persen. Merosotnya jumlah kunjungan tersebut dipicu polemik pemasangan seng oleh sejumlah oknum pelaku usaha yang sebelumnya disegel karena pelanggaran, sehingga berdampak serius terhadap citra kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO itu.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, mengungkapkan penurunan paling signifikan terjadi pada segmen wisatawan mancanegara, terutama saat momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. “Penurunan kunjungan mencapai 80 persen. Ini sangat parah, khususnya wisatawan asing,” ujarnya, Jumat (2/1/2026).
Ia menjelaskan, pemasangan seng di sejumlah titik kawasan persawahan terasering menimbulkan persepsi keliru di kalangan wisatawan. Banyak wisatawan mengira tengah terjadi aksi demonstrasi atau konflik terbuka, sehingga menimbulkan rasa khawatir untuk berkunjung. Dampak terbesarnya dirasakan dari pasar wisatawan Prancis yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama kunjungan ke Jatiluwih.
“Wisatawan Prancis sampai membatalkan kunjungan dan tidak lagi menjadikan Jatiluwih sebagai tujuan wisata,” tegasnya.
Kondisi ini dinilai ironis, mengingat pada 30 September 2025 lalu, di Montpellier, Prancis, Jatiluwih baru saja diumumkan sebagai salah satu destinasi berkelanjutan terbaik dunia dalam ajang internasional Green Destinations Top 100 Stories 2025. Saat itu, Jatiluwih menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar bergengsi tersebut.
Berdasarkan data pengelola, total kunjungan wisatawan ke Jatiluwih sepanjang 2025 tercatat sebanyak 388.872 orang. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 421.927 kunjungan. Tren penurunan terjadi hampir setiap bulan, dengan penurunan cukup tajam pada Desember 2025 yang hanya mencatat 17.682 kunjungan, turun dari 18.838 wisatawan pada Desember 2024.
Ketut Purna menegaskan, situasi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Ia meminta pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk menyelesaikan persoalan pemasangan seng agar tidak terus berdampak negatif terhadap sektor pariwisata. “Yang memasang seng itu oknum, bukan semua petani. Jangan sampai dibiarkan. Harus segera diselesaikan supaya tidak berimbas lebih jauh,” katanya.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan domestik disebut relatif masih stabil dan tidak terdampak signifikan. Bahkan, sebagian wisatawan lokal justru datang karena rasa penasaran ingin melihat langsung kondisi Jatiluwih. “Kalau wisatawan domestik masih aman. Mereka malah datang untuk melihat langsung kondisi di lapangan,” ungkapnya.
Manajemen DTW Jatiluwih berharap adanya langkah cepat, konkret, dan tegas dari pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan agar citra Jatiluwih sebagai destinasi unggulan dunia dapat segera pulih, sekaligus mengembalikan kepercayaan wisatawan mancanegara terhadap kawasan persawahan terasering yang menjadi ikon pariwisata Bali tersebut. (*)

